"Pentingnya Pergaulan Sosial dalam Pembentukan Karakter untuk Meningkatkan Kesadaran Bela Negara"

 Aqila Murodah Sutanto

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

23081010309@student.upnjatim.ac.id


Abstract

Awareness of National Defense needs to be increased as a basis or attitude for the behavior of the Indonesian nation. One way to increase this awareness is through building positive character starting from everyday life. This article aims to show the importance of social interactions in everyday life in forming individual character that can support an attitude of defending the country. Through positive relationships and a supportive environment, such as involvement in social activities in the family, school and community, it is hoped that each individual can develop characters that support national defense, such as responsibility, discipline and love of the homeland. This character formation will strengthen awareness and a sense of solidarity among fellow nations, which in turn will contribute to the progress and sustainability of the country. Thus, awareness of defending the country is not just a formal obligation, but as part of character formation that starts from an early age and continues to develop in daily social interactions.

Abstrak

Kesadaran Bela Negara perlu ditingkatkan sebagai suatu landasan atau sikap perilaku bangsa Indonesia. Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran tersebut adalah melalui pembentukan karakter positif yang dimulai dari kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya pergaulan dalam kehidupan sehari-hari dalam pembentukan karakter individu yang dapat mendukung sikap bela negara. Melalui pergaulan yang positif dan lingkungan yang mendukung, seperti keterlibatan dalam kegiatan sosial di keluarga, sekolah, dan masyarakat, diharapkan setiap individu dapat mengembangkan karakter-karakter yang mendukung bela negara, seperti tanggung jawab, disiplin, dan cinta tanah air. Pembentukan karakter ini akan memperkuat kesadaran dan rasa solidaritas sesama bangsa, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada kemajuan dan keberlanjutan negara. Dengan demikian, kesadaran bela negara bukan hanya sebagai kewajiban formal, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter yang dimulai sejak dini dan terus berkembang dalam interaksi sosial sehari-hari.

Pendahuluan

Bela negara adalah konsep yang sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh setiap warga negara Indonesia. Tanggung jawab untuk menjaga keutuhan negara tidak hanya berada di tangan pemerintah atau militer, tetapi juga menjadi tugas setiap individu untuk memperkuat pertahanan dan keamanan negara. Salah satu bentuk kontribusi nyata adalah dengan menjaga kedamaian, menghindari perpecahan sosial, dan berperan dalam pembangunan negara. Melalui pembentukan karakter positif, kita dapat menciptakan masyarakat yang disiplin, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kepentingan bersama. Pembentukan karakter ini dapat dimulai sejak dini melalui interaksi di keluarga, sekolah, dan kehidupan sosial sehari-hari, di mana nilai-nilai seperti saling menghargai, tanggung jawab, dan gotong royong ditanamkan untuk membangun rasa cinta tanah air.

Pergaulan yang baik memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir dan karakter seseorang. Dalam lingkungan sosial yang positif, individu cenderung mengembangkan sikap optimis, maju, dan positif, serta memperkaya wawasan melalui pengalaman dan pembahasan yang bernilai. Pergaulan yang sehat menciptakan ruang untuk bertukar pikiran, mengasah kemampuan komunikasi, dan belajar dari pengalaman orang lain. Namun, pergaulan yang kurang baik dapat mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan negatif, seperti konflik dan ketidakpedulian. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memilih lingkungan sosial yang mendukung perkembangan pribadi dan membantu membangun karakter yang baik, yang pada gilirannya juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.

Kesadaran diri memainkan peran penting dalam membentuk karakter seseorang, yang pada akhirnya memengaruhi sikap terhadap negara dan masyarakat. Kesadaran diri adalah kemampuan untuk memahami situasi diri dalam berbagai konteks dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang diyakini. Dalam konteks bela negara, kesadaran diri terkait erat dengan hati nurani, yang membimbing individu untuk membuat keputusan yang sesuai dengan prinsip kebaikan. Ketika seseorang memiliki kesadaran moral yang tinggi, ia akan lebih termotivasi untuk bertindak demi kebaikan bersama, yang merupakan inti dari bela negara. Dengan demikian, kesadaran diri dan hati nurani yang bersih berperan dalam memperkuat komitmen terhadap negara. 

Untuk membangun kesadaran bela negara, penting untuk menanamkan nilai-nilai inti seperti cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, serta keyakinan terhadap Pancasila. Cinta tanah air dapat diwujudkan melalui kebanggaan menjadi bagian dari Indonesia, serta dengan menghargai produk dalam negeri dan menjaga lingkungan. Kesadaran berbangsa dan bernegara juga penting, di mana setiap individu merasa terikat pada nilai moral, hukum, dan budaya kebangsaan. Namun, persepsi ini seringkali tergerus oleh globalisasi, ideologi ekstrem, dan praktik-praktik yang merugikan, seperti korupsi dan anarkisme. Oleh karena itu, pendidikan dan kesadaran sejak dini sangat penting untuk mengembalikan dan memperkuat rasa cinta dan tanggung jawab terhadap negara.

Pendidikan yang berkualitas tidak hanya berfokus pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga penting dalam membangun karakter yang baik. Pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai dasar seperti toleransi, empati, dan menghargai perbedaan akan menciptakan individu yang mampu bergaul dengan berbagai kalangan dan menghargai keberagaman. Pendidikan semacam ini juga melatih keterampilan sosial seperti komunikasi efektif dan penyelesaian konflik secara bijak. Dengan demikian, pendidikan yang baik menjadi dasar dalam menciptakan interaksi sosial yang harmonis dan produktif, serta membantu individu menjauhi pengaruh negatif dan membangun relasi yang bermanfaat bagi perkembangan diri dan masyarakat.

Sebagai individu yang tengah berkembang, sudah seharusnya memiliki potensi besar untuk membentuk karakter dan sikap yang mendukung bela negara. Proses ini bisa dimulai dari lingkungan pergaulan, di mana mereka saling memengaruhi dan membentuk nilai-nilai sosial dan politik. Dalam pergaulan antar teman, mahasiswa dapat memperlihatkan sikap peduli terhadap isu-isu sosial, berkomunikasi secara terbuka, dan menghargai pandangan serta keberagaman. Hal ini secara tidak langsung melatih mereka untuk lebih sadar akan pentingnya kebersamaan dan kepentingan nasional.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kesadaran bela negara dapat meningkat melalui pembentukan karakter yang baik dalam pergaulan sehari-hari. Partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan interaksi yang penuh toleransi terbukti efektif dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa. Pengalaman mahasiswa yang terlibat dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan sosial menunjukkan bahwa mereka lebih mampu menghargai keberagaman serta memiliki kesadaran tinggi tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa. Selain itu, observasi terhadap keluarga dan lingkungan pendidikan yang menekankan nilai-nilai kebangsaan memperlihatkan kontribusi yang signifikan dalam pembentukan karakter yang cinta tanah air.

Kesadaran bela negara bukan hanya sekadar kewajiban formal, tetapi juga merupakan bagian dari pembentukan karakter yang dimulai sejak dini. Pembentukan karakter melalui pergaulan sehari-hari merupakan cara yang efektif dalam menumbuhkan semangat nasionalisme dan rasa cinta terhadap tanah air. Dalam pergaulan sosial, individu yang terlibat dalam lingkungan yang positif, di mana mereka dihargai dan diajarkan untuk saling mendukung, cenderung lebih memiliki rasa tanggung jawab terhadap negara. Selain itu, pergaulan yang melibatkan kerja sama dan toleransi antara berbagai suku, agama, dan budaya dapat memperkuat kesadaran kolektif untuk menjaga kedamaian dan keutuhan negara. Sebagai contoh, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan lebih sering terlibat dalam kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat persatuan dan memajukan masyarakat. Dengan demikian, kesadaran bela negara dapat tumbuh secara alami ketika individu merasakan pentingnya peran mereka dalam masyarakat yang lebih luas.

Pergaulan sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang yang akan berdampak langsung pada kesadaran bela negara. Interaksi sosial memberikan kesempatan bagi individu untuk belajar mengembangkan nilai-nilai penting seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati, yang pada gilirannya memperkuat kesadaran akan pentingnya kontribusi terhadap negara. Melalui pergaulan sosial, individu belajar bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah, serta beradaptasi dengan perbedaan. Empati yang terbangun melalui pergaulan ini mendorong individu untuk bertindak lebih peduli terhadap sesama, yang merupakan salah satu bentuk dari bela negara. Selain itu, pergaulan sosial mengajarkan pentingnya kerja sama untuk mencapai tujuan bersama, yang juga mendukung pembangunan negara.

Pergaulan sosial juga membantu individu mengenali kekuatan dan kelemahan diri, serta mendorong introspeksi yang mendalam. Interaksi dengan teman, keluarga, atau masyarakat memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai yang kita pegang diterapkan dalam kehidupan nyata. Dalam proses ini, kita belajar untuk lebih adil, menghargai pendapat orang lain, dan bekerja sama dengan lebih baik. Kesadaran diri yang muncul melalui pergaulan sosial ini sangat berpengaruh terhadap sikap kita terhadap negara. Ketika seseorang memiliki karakter yang baik, ia tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi, tetapi juga merasa bertanggung jawab untuk berperan aktif dalam masyarakat dan negara, yang menjadi inti dari kesadaran bela negara.

Pergaulan sosial memperkenalkan kita pada berbagai perspektif dan pengalaman hidup yang berbeda, yang sangat penting dalam membentuk sikap terbuka dan toleransi terhadap perbedaan. Dalam lingkungan yang melibatkan berbagai suku, agama, dan budaya, seseorang akan belajar untuk menghargai keberagaman dan pentingnya menjaga persatuan. Ini adalah bagian dari bela negara, karena salah satu kekuatan suatu negara terletak pada kemampuannya untuk merangkul perbedaan dan menggunakannya sebagai sumber kekuatan untuk bersama-sama maju. Dengan demikian, pergaulan sosial memperkaya pengalaman pribadi dan membentuk karakter yang dapat berkontribusi pada kemajuan bangsa.

Lingkungan sosial yang positif, seperti teman-teman yang berbagi nilai-nilai Kebajikan dan mentor yang memberikan bimbingan, sangat berperan dalam membentuk kesadaran bela negara. Ketika seseorang berada dalam lingkungan yang mendukung, mereka akan merasa termotivasi untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi pada kebaikan bersama. Pergaulan sosial bukan hanya tentang berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang saling mendukung untuk tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Hal ini memperkuat kesadaran bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap negara, baik dalam bentuk kontribusi sosial, ekonomi, maupun menjaga keharmonisan sosial.

Secara keseluruhan, pergaulan sosial memberikan peluang besar bagi individu untuk mengembangkan karakter yang kuat dan positif. Karakter ini tidak hanya bermanfaat bagi individu itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan negara. Dengan adanya empati, kerja sama, dan toleransi dalam pergaulan sosial, individu akan semakin sadar akan tanggung jawabnya sebagai warga negara. Hal ini akan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam menjaga dan membela negara. Pergaulan sosial, dengan segala pembelajaran dan pengalaman yang terkandung di dalamnya, merupakan fondasi yang tak terpisahkan dalam menciptakan kesadaran bela negara yang kuat dan berkelanjutan.

Pergaulan juga merupakan tempat untuk mengasah kemampuan mahasiswa dalam membangun solidaritas, toleransi, dan kerja sama. Ketika mahasiswa bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, mereka belajar untuk mengutamakan kepentingan umum, memahami peran mereka dalam masyarakat, dan memahami bahwa kontribusi terhadap bangsa bisa diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan. Ini sejalan dengan konsep bela negara yang tidak hanya terbatas pada upaya pertahanan fisik, tetapi juga dalam mengembangkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan negara.

Namun, pembentukan karakter ini tidak hanya bergantung pada lingkungan sosial dan pendidikan formal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh keteladanan yang diberikan oleh pemimpin dan figur-figur penting di masyarakat. Jika pemimpin mampu memberikan contoh yang baik dalam menerapkan nilai-nilai kebangsaan, seperti menjaga kedisiplinan, menghargai perbedaan, dan melibatkan diri dalam kegiatan sosial, maka karakter baik ini akan lebih mudah diterima dan ditiru oleh masyarakat.

Pentingnya pendidikan karakter juga tidak dapat diabaikan. Pendidikan formal yang mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dalam kurikulum, seperti Pancasila dan UUD 1945, memberikan fondasi yang kuat bagi generasi muda untuk memahami esensi dari bela negara. Pendidikan karakter yang mencakup pembelajaran tentang sejarah perjuangan bangsa dan hak-hak kewarganegaraan dapat menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kedaulatan negara dari ancaman yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Secara keseluruhan, pembentukan karakter dalam pergaulan sehari-hari memberikan kontribusi besar terhadap kesadaran bela negara. Dengan pergaulan yang sehat dan pendidikan yang berkesinambungan, individu dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi, tetapi juga kepentingan bersama dalam menjaga kemerdekaan dan keutuhan negara.

Kesimpulan

         Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kesadaran bela negara dapat ditingkatkan melalui pembentukan karakter yang baik dalam pergaulan sehari-hari. Pembentukan karakter ini bukan hanya sekadar menumbuhkan rasa cinta tanah air, tetapi juga melibatkan pengembangan sikap disiplin, tanggung jawab, dan empati terhadap sesama. Pergaulan sosial yang positif, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, memainkan peran yang sangat besar dalam membentuk kesadaran bela negara. Dalam pergaulan tersebut, individu diajarkan untuk saling menghargai perbedaan, beradaptasi dengan berbagai budaya, serta bekerja sama untuk tujuan bersama.

Pergaulan sosial yang melibatkan interaksi antar individu dengan latar belakang yang berbeda, seperti suku, agama, dan budaya, dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan dalam diri individu. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan yang menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan menghindari perpecahan. Mahasiswa yang aktif dalam kegiatan sosial dan organisasi kemahasiswaan, misalnya, sering terlibat dalam kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat solidaritas dan memajukan masyarakat, yang tentunya berkontribusi pada pembentukan kesadaran bela negara. Selain itu, kerja sama yang terjalin dalam pergaulan sosial memungkinkan individu untuk belajar tentang tanggung jawab sosial, keadilan, dan bagaimana mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Kesadaran bela negara tidak hanya terbentuk melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui keteladanan pemimpin dan figur-figur penting dalam masyarakat. Jika pemimpin memberikan contoh yang baik dalam penerapan nilai-nilai kebangsaan, seperti kedisiplinan, penghargaan terhadap perbedaan, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial, maka karakter positif ini akan lebih mudah diterima dan diikuti oleh masyarakat. Keteladanan ini sangat penting dalam membentuk pola pikir dan sikap yang mencerminkan bela negara.

Pendidikan karakter juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan, seperti Pancasila dan UUD 1945, memberikan dasar yang kokoh bagi generasi muda untuk memahami arti penting bela negara. Melalui pendidikan ini, individu diajarkan untuk menghargai perjuangan bangsa, memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta menjaga kedaulatan negara dari ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.

Secara keseluruhan, pergaulan sosial yang sehat dan pembentukan karakter yang berkelanjutan melalui interaksi sosial, pendidikan, serta keteladanan pemimpin, merupakan fondasi utama dalam menciptakan kesadaran bela negara yang kuat. Individu yang memiliki karakter baik, yang dilandasi dengan nilai-nilai kebangsaan, akan lebih mudah menyadari pentingnya berkontribusi pada negara, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun menjaga keharmonisan sosial. Oleh karena itu, penguatan pembentukan karakter melalui pergaulan sehari-hari dan pendidikan merupakan langkah yang sangat penting dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran bela negara yang tinggi, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada kemajuan dan keberlanjutan bangsa.

Daftar Pustaka

Hartono, D. (2020). Fenomena Kesadaran Bela Negara di Era Digital dalam Perspektif Ketahanan Nasional. Jurnal Lemhannas, 5(3), 45-58.

Handayani, P. A., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Membangun Kesadaran Sikap Bela Negara pada Generasi Milenial dan Siswa Sekolah Dasar dalam Sistem Pertahanan Negara. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(2), 112-120.

Husein, M. (2021, April 15). Pengaruh Pergaulan Terhadap Pembentukan Karakter Anak dan Remaja. Kompasiana.

Ihsan, M. I., & Ghazani, T. (2022). Kesadaran Mahasiswa dalam Bela Negara di Era Milenial. Jurnal Studi Kebangsaan, 10(1), 45-52.

Ilmu Komunikasi UMA. (2023, November 7). Membentuk Karakter yang Positif. Ilmu Komunikasi UMA.  

Kementerian Pertahanan RI. (2023). Modul Bela Negara. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Kementerian Pertahanan RI. (2024, Juni 12). Pembinaan Kesadaran Bela Negara bagi Mahasiswa. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia

Novarita. (2020). Pendidikan dan Pembentukan Karakter dengan Pembelajaran. Jurnal Kepribadian, 2(2), 123-135.

Radar Jombang. (2023, Juni 25). Pentingnya Menjaga Pergaulan di Usia Remaja. Radar Jombang

Schneider, S., & Velmans, M. (2007). The Blackwell Companion to Consciousness. Blackwell Publishing.

Thomas Linton. (2023, Mei 26). Peran Pergaulan dalam Pembentukan Karakter Remaja. Kompasiana.

UPN Jatim. (2023). Buku Ajar Bela Negara (Dr. Ir. Zainal Abidin, MS, Djoko Poernomo, S.IP, MM, Dra. Endang Iryanti, MM, Dr. Lukman Arif, M.Si, Penulis). UPN Jatim.

Waruwu, F. (2021). Peran Pendidikan Karakter dalam Membentuk Sikap Positif Terhadap Belajar Anak di Sekolah. Jurnal Pendidikan Karakter, 1(1), 45-56.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini